Laporan Lengkap
Nama :Juan Giffari
Nis : 114677
Kelas/Klp : 3C/C2.1
Judul Penetapan :Penatapan Kadar Karbohidrat Dalam Sampel ( Mi Instan )
Tujuan Penetapan : Untuk menentukan kadar karbohidrat dalam sampel mi instan
Tanggal Mulai :23 September 2013
Tanggal Selesai :24 September 2013
Dasar Prinsip :
Prinsip kerja kedua cara ini adalah hidrolisis pasti oleh asam menjadi gula pereduksi .Pada Penetapan cara luff dipakai pereduksi garam Cu kompleks,dimana glukosa yang bersifat pereduksi akan mereduksi Cu2+ menjadi Cu+ atau CuO direduksi menjadi Cu2O yang berwarna merah bata.Kemudian Kelebihan CuO ditetapkan dengan cara Iodometri dengan menetapkan blanko,maka volume (ml) tio yang dibutuhkan untuk menitar kelebihan Cu2+ dapat diketahui.Selisih volume tio blanko sampel setara dengan jumlah mg glukosa yang terdapat dalam sampel
Reaksi :
(C6H10O5)n + nH2O -> nC6H12O6
C6H12O6 + 2CuO -> Cu2O + C5H11O5 + COOH
Sisa CuO + 2KI + H2SO4 -> CuI2 + K2SO4 + H2O
I2 + Na2S2O3 -> 2NaI + Na2S4O6
Landasan Teori
Karbohidrat adalah golongan senyawa-senyawa yang terdiri dari unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Senyawa-senyawa ini dapat didefinisikan sebagai senyawa-senyawa polihidroksialdehid atau polihidroksiketon.
Ditinjau dari segi gizi, karbohidrat merupakan segolongan senyawa-senyawa penting karena merupakan sumber energi yang palin ekonomis da paln tersebar luas. Bahan pangan yang dihasilkan di dunia sebagian terbesar terdiri dari bahan pangan yang kaya akan karbohidrat.
Metode Luff Schoorl adalah berdasarkan proses reduksi dari larutan Luff Schoorl oleh gula-gula pereduksi (semua monosakarida, laktosa dan maltosa). Hidrolisis karbohidrat menjadi monosakarida yang dapat mereduksikan Cu2+ menjadi Cu1+.
Reaksi yang terjadi dalam metode Luff Schoorl :
H H
Gula reduksi Luff Schoorl
I2 + 2 NaS2 → 2 NaI + Na2S4O2
Sukrosa tidak memiliki sifat-sifat mereduksi, karena itu untuk menentukan kadar sukrosa harus dilakukan inversi terlebih dahulu menjadi glukosa dan fruktosa.
Dalam hal ini kadar sukrosa harus diperhitungkan dengan faktor 0,95 karena pada hidrolisis sukrosa berubah menjadi gula invert.
C12H22O11 + H2O → 2C6H12O6
Sukrosa gula reduksi
Karohidrat terdiri dari bermacam-macam dan menurut ukuran molekul dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu:
a. Monosakarida, karbohidrat yang paling sederhana susunan molekulnya dan tidak diuraikan lagi. Golongan ini yaitu glukosa dan fruktosa
b. Disakarida, karbohidrat yang terdiri dari 2 molekul monosakarida. Golongan ini yaitu sukrosa, maltosa dan laktosa
c. Polisakarida, karbohidrat yang terdiri dari banyak molekul monosakarida. Golongan ini yaitu patim glikogen dan selulosa
Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut :
R-CHO + 2 Cu2+ à R-COOH + Cu2O
2 Cu2+ + 4 I- à Cu2I2 + I2
2 S2O32- + I2 à S4O62- + 2 I-
Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Winarno 2007). I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen.
Alat :
Erlenmeyer 300ml
Pipet volume 25ml
Buret asan 50ml
Erlenmeyer asah 300ml
Pendingin tegak
Penangas air
Gelas ukur 100ml
Pipet Volume 10ml
Labu ukur 250ml
corong
Bahan :
Mie Instan (sampel)
H2SO4 1,25%
H2SO4 25%
NaOH 3,25%
Indicator PP
KI 30%
Tio 0,1 N
Aquadest
Larutan Luff
Erlenmeyer 300ml
Pipet volume 25ml
Buret asan 50ml
Erlenmeyer asah 300ml
Pendingin tegak
Penangas air
Gelas ukur 100ml
Pipet Volume 10ml
Labu ukur 250ml
corong
Bahan :
Mie Instan (sampel)
H2SO4 1,25%
H2SO4 25%
NaOH 3,25%
Indicator PP
KI 30%
Tio 0,1 N
Aquadest
Larutan Luff
Ditimbang 3 g sampel mie instan ke dalam Erlenmeyer 300ml
Ditambahkan 25ml H2SO4 1,25%
Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak
Di didihkan diatas penangas air selama ±1,5-2 jam
Di dinginkan dan dimasukkan seluruhnya kedalam labu ukur 250ml
Dinetralkan dengan NaOh 3,25% menggunakan indicator PP kemudian di tepatkan sampai tanda garis dan di saring
Di pipet 10ml hasil saringan, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer asah, ditambahkan 25mllarutan luff dan 15nm aquadest
Dididihkan memakai pendingin tegak selama 10menit
Larutan didinginkan dan ditambahkan 10ml KI 30% dan 25ml H2SO4 25% melalui dinding Erlenmeyer
Dititar dengan larutan Tio 0,1N hingga titik akhir, sebagai penunjuk digunakan larutan kanji
Blanko di tetapkan seperti diatas.
Ditambahkan 25ml H2SO4 1,25%
Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak
Di didihkan diatas penangas air selama ±1,5-2 jam
Di dinginkan dan dimasukkan seluruhnya kedalam labu ukur 250ml
Dinetralkan dengan NaOh 3,25% menggunakan indicator PP kemudian di tepatkan sampai tanda garis dan di saring
Di pipet 10ml hasil saringan, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer asah, ditambahkan 25mllarutan luff dan 15nm aquadest
Dididihkan memakai pendingin tegak selama 10menit
Larutan didinginkan dan ditambahkan 10ml KI 30% dan 25ml H2SO4 25% melalui dinding Erlenmeyer
Dititar dengan larutan Tio 0,1N hingga titik akhir, sebagai penunjuk digunakan larutan kanji
Blanko di tetapkan seperti diatas.
Pengamatan :
Bobot sampel : 3,0021 gram
Volume titrasi Blanko : 44,90 ml
Volume titrasi Sampel : 9,30 ml
Perhitungan :
(V.T blanko - V.T sampel ) x N tio standar
3,56 x 10 ml
3,56 = 7,2 + (0,56 * 2,5 )
= 7,2 + 1,4
= 8,6 mg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar